h1

Harga Pupuk Naik, Petani Menjerit

April 10, 2010

PANDEGLANG – Petani di Pandeglang menolak kenaikan harga pupuk bersubsidi sebesar 35 persen yang mulai diberlakukan Jumat (9/4) kemarin.

Penolakan itu muncul lantaran memberatkan petani yang sudah susah dengan anjloknya harga gabah. Selain itu, kenaikan juga tak disertai dengan sosialisasi dari pemerintah maupun distributor.
Seperti diketahui, harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea bersubsidi naik per kilogramnya dari Rp 1.200 jadi Rp 1.600, pupuk SP-36 dari Rp 1.550 jadi Rp 2.000, pupuk ZA dari Rp 1.050 jadi Rp 1.400, dan pupuk NPK dari Rp 1.830 jadi Rp 2.300. Kenaikan harga pupuk itu berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2010 tentang HET Pupuk Bersubsidi.
Anis Fuad, Ketua Gapoktan Talagawangi, Kecamatan Menes, kepada Radar Banten, Jumat (8/4), kenaikan harga pupuk memberatkan petani. “Hingga kini, kami belum tahu informasi kenaikan harga pupuk tersebut,” katanya.
Anis menjelaskan saat ini kelompok taninya mulai beralih ke pupuk organik. Walaupun begitu, pupuk kimia tetap dibutuhkan oleh kelompok taninya. Apalagi, embel-embel penggunaan pupuk organik ternyata tak bisa mendokrak harga jual gabah karena gabah dari kelompok taninya tak bisa dijual langsung ke Bulog.
“Oleh karena itu kami gabah kami jual ke tengkulak dengan harga lebih murah karena Bulog tak mau membeli langsung ke petani sehingga uang yang kami dapatkan sangat minim,” kata Anis sambil menambahkan seharusnya bila petani menggunakan pupuk organik maka harga jual gabah juga lebih mahal karena gabahnya minim unsur kimiawi.
“Tapi di Banten kondisi itu nggak berlaku, harga gabahnya tetap sama. Makanya kalau pupuk naik keuntungan kami bisa-bisa hilang,” tukas Anis sambil mengatakan jumlah kelompok taninya seratusan orang. Ia berharap pemerintah yaitu Bulog membeli gabah petani secara langsung dengan harga tinggi sehingga kebutuhan pupuk bisa tertutupi dengan keuntungan penjualan gabah.
Distributor Pupuk Pulosari, Mimin, mengaku pihaknya merugi lantaran diharuskan menambah uang muka oleh PT Pusri. Ia menegaskan, dirinya sudah menyetor uang muka Rp 100 juta sebelum HET pupuk naik, tetapi dengan kenaikan harga ini harus menyetor lagi sekira Rp 40 juta.
“Kami pusing, kemana lagi mencari uang tambahan. Sementara para agen dan kios sudah menelepon menanyakan kebenaran kenaikan harga pupuk itu, karena mereka juga banyak yang belum tahu. Padahal kami juga belum tahu kenaikan harga itu,” paparnya.
Tenaga Harian Lepas (THL) Dadan Hudaya, mengaku, kesulitan menjelaskan ke petani ada kenaikan harga pupuk. “Petani semakin menjerit dan terjepit. Seharusnya kenaikan harga pupuk ini jangan dulu diberlakukan karena berdampak terhadap biaya produksi dan hasil tanaman,” paparnya.(adj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: